KeepInMind: Investasi Anda di Bisnis Akuakultur

Bisnis perikanan, seperti usaha lainnya juga, mutlak harus diawali oleh minat dan modal yang memadai. Penentuan komoditas yang akan dipilih harus didasarkan pada permintaan pasar yang riil dan sudah diketahui. Sementara penggunaan teknologi dapat disesuaikan dengan kondisi lahan yang akan digunakan.

Pergeseran gaya hidup global yang mengarah pada pencarian sumber makanan yang menyehatkan telah mendorong peningkatan konsumsi protein yang berasal dari sumber yang menyehatkan pula. Diantara sumber yang kemudian banyak dipilih adalah protein hewani yang berasal dari ikan. Di sisi lain, suplai ikan yang berasal dari penangkapan sudah mulai stagnan bahkan cenderung menurun. Akhirnya, peningkatan permintaan tersebut kemudian harus dipenuhi ikan yang berasal dari budidaya (akuakultur). Wajar saja, bila kemudian banyak orang, yang punya modal, berminat terjun pada bisnis akuakultur.

Bagi para pendatang baru dengan minat dan modal yang dimiliki, masalah kemudian muncul akibat tergiur oleh banyak “berita manis pada media massa” mengenai keuntungan besar yang dapat diraih sehingga “salah tempat” ketika investasi. Untuk menghindari hal tersebut terjadi, mungkin ada baiknya menelusuri beberapa aspek seputar bisnis akuakultur (karena ditulis dari perspektif praktisi, akan sangat baik bila tulisan ini dikomentari oleh para pelaku pasar).

Pertama, tentukan dulu komoditas yang akan diusahakan berdasarkan kebutuhan pasar riil. Bila membaca atau mendengar peluang pasar yang besar, sebaiknya dipastikan dulu kebenarannya. Bila memungkinkan, ada baiknya menciptakan pasar baru sesuai dengan komoditas yang dipilih. Jangan terlalu tergiru oleh trend, karena biasanya hanya booming sesaat.

Kedua, gunakan teknologi akuakultur yang sesuai dengan kondisi setempat. Tidak salah belajar dari tempat yang sudah maju ataupun dari buku2. Tapi harus tetap diingat bahwa kondisi lahan yang akan digunakan pasti berbeda dengan tempat lain. Langkah tepat untuk hal ini adalah menggunakan bantuan tenaga praktisi untuk melakukan “analisis kelayakan” lahan, baik pembenihan maupun pembesaran.

Ketiga, dekatkan tempat produksi dengan pasar. Secara instant, kebutuhan benih yang akan ditanam dapat didatangkan dari tempat lain, tapi bagaimanapun akan lebih efisien bila produksi dilakukan dengan sumber benih (sebagai contoh baca: trans-regional-benih-patin).

Keempat, bila modal yang dimiliki namun tidak memungkingkan untuk terjun langsung sebagai pengelola usaha, ada baiknya mencari mitra untuk kerja sama. Pastikan bahwa calon mitra memang sebagai pengelola usaha yang baik dan memiliki pasar.

Kelima, bila Anda masih bingung, hubungi saya………..

(Inspirasi tulisan ini muncul setelah kunjungan ke Palembang. Trims pada Mas Okky yang telah memfasilitasi perjalanan tersebut)

Note: re-blog dari http://indoorcommunity.wordpress.com

Analisis (Awal) Usaha Budidaya Ikan Lele: PEMBENIHAN

Analisis usaha ini disajikan terutama bagi kawan-kawan yang ingin mencoba berbisnis budidaya lele pada segmen pembenihan. Analisis yang lebih terkait dengan operasional akan dibuat pada model yang berbeda.

Asumsi:
– Induk yang digunakan adalah induk ikan lele Sangkuriang
– Pemijahan menggunakan sistem pemijahan alami
– Pemahaman pelaksana pembenihan: Terampil
– Benih yang dihasilkan berukuran 7-8 cm
– Beberapa parameter harga harus diketahui agar kebutuhan biaya dan pendapatan bisa dihitung

Prakiraan Biaya Usaha Pembenihan Ikan Lele




Catatan:
– KEBUTUHAN BIAYA AWAL merupakan biaya yang harus tersedia sebelum proses produksi bisa menghasilkan.
– Dengan lama proses produksi sekitar 3 bulan, PENDAPATAN dari hasil penjualan ikan sudah dapat digunakan untuk KEBUTUHAN BIAYA pada proses produksi selanjutnya.
– Prakiraan biaya ini belum termasuk sewa lahan, upah, listrik dan peralatan produksi.
– Tampilan analisis ini sudah diuji pada browser firefox (notebook) dan chrome (tablet Galaxy Note 8) tapi mungkin bermasalah pada layar beberapa smartphone.

analisis pembenihan