Jampang Makalangan 2 : Urang Jampang Teureuh Siliwangi

Merujuk Uga Wangsit Siliwangi, Prabu Siliwangi membebaskan pengikutnya, seorang raja yang keluar dari pusat kerajaan karena penyerangan semestinya hanya diikuti oleh para jagoan pengawal pribadinya, untuk mengambil jalan sesuai kehendak masing-masing. Ke selatan bila ingin bersama dirinya, ke utara bila mau kembali ke pusat kerajaan, ke timur bila ingin menjadi pelayan yang sedang berjaya, dan ke barat yang tidak akan ikut kemana-mana. Secara geografis, sabda Sang Prabu disampaikan di daerah Cibadak, dimana Sungai Cicatih mengalir. Cukup logis bila Sang Prabu mundur dari pusat kerajaan Pajajaran (Bogor sekarang) ke Cicatih karena di tempat itu terdapat situs suci tempat peribadahan peninggalan leluhurnya, Prabu Jayabhupati, merujuk pada prasasti Sanghyang Tapak.

Perkiraan tempat Wangsit Siliwangi

Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!

Dari situs suci ini, Sang Prabu dengan sedikit pengawalnya, tentu hanya pengawal terdekat yang paling setia, bergerak ke arah selatan. Bukan pergerakan yang tanpa arah karena di selatan ada tempat suci lain peninggalan leluhurnya juga. Dikisahkan bahwa Mangkubumi Bunisora mendirikan padepokan di daerah Jampang. Ke tempat itulah Sang Prabu menuju, sebuah peninggalan padepokan di hulu Sungai Cikaso. Sang Prabu beristirahat di padepokan sambil menunggu putrinya yang masih bertempur menghambat gerak pasukan pengejar. Beberapa pengawal ditinggalkan di padepokan, menunggu sang putri yang tidak pernah datang karena, sang putri justru mundur ke arah barat menuju Pelabuhan Ratu, ketika Sang Prabu bergerak kembali ke arah selatan menuju ujung selatan negeri. Di beberapa tempat, Sang Prabu sempat berhenti dan meninggalkan ciciren, yang di kemudian hari diyakini sebagai pasarean.

Ya, hanya ciciren yang ditinggalkan karena Sang Prabu tidak mendirikan lagi Pajajaran. Bagi dirinya, Pajajaran sudah berakhir. Mungkin saja, pergerakan Sang Prabu berakhir di daerah Jampang, sesuai wangsit ke selatan, dan ngababakan di sana hingga akhir hayatnya. Dan tidak ada cerita apapun karena untuk menjaga keamanan dirinya dan pengawalnya. Namun ciciren itu kemudian muncul pada “asa aing uyah kidul” teureuh Jampang pada masanya. Bukan untuk suatu kesombongan atau merasa derajat paling tinggi, meskipun ada saatnya dikenal kesaktian orang Jampang, namun ungkapan itu semata-mata untuk sebuah harga diri dan pengingat. Harga diri atas loyalitas terhadap Siliwangi meskipun harus menderita (ungkapan tidak menggunakan emas atau kayu jati tapi hanya uyah/garam. Garam hanya dipakai sekedarnya namun menjadi penentu rasa). Menjadi pengingat karena ada tugas mendirikan Pajajaran Baru.

Entahlah……. harus ahli sejarah yang membuka. Saya hanya menikmati perjalanan pulang ke Selatan, memunguti remahan keyakinan masyarakat terhadap pasarean dan membayangkan sebuah pelarian demi menghindari pertikaian.