Interpopulation crossbreeding of farmed and wild African catfish Clarias gariepinus (Burchell 1822) in Indonesia at the nursing stage

Aquat. Living Resour.
Volume 29, Number 3, July-September 2016

Interpopulation crossbreeding of farmed and wild African catfish Clarias gariepinus (Burchell 1822) in Indonesia at the nursing stage

Ade Sunarma1,2a, Odang Carman1, Muhammad Zairin Jr.1 and Alimuddin Alimuddin1
1 Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Science, Bogor Agricultural University, Dramaga Campus, 16680 Bogor, West Java, Indonesia
2 National Freshwater Aquaculture Center, Ministry of Marine Affairs and Fisheries, Republic of Indonesia, Jalan Selabintana 37, 43114 Sukabumi, Indonesia
a Corresponding author: sunarma@gmail.com

Received: 23 May 2016
Accepted: 14 September 2016

Abstract
Introduced African catfish Clarias gariepinus (Burchell 1822) have been cultivated in Indonesia since 1985 and have made a significant contribution to aquaculture production. Unfortunately, the rapid development of catfish farming was not accompanied by proper genetic improvement of broodstock and this led to poor production performances. A method that can potentially provide rapid improvement in the genetic quality of broodstock is the crossbreeding technique. The present study evaluated growth and survival performances up to 81 days post-hatching (nursing stage) of reciprocal interpopulation crossbreeds generated from five existing introduced African catfish populations in Indonesia, i.e. from Indonesia, Egypt, Kenya, the Netherlands and Thailand. Artificial spawning was applied to form five purebred populations and 20 crossbreed populations. There were significant differences in body length growth (specific growth rate – SGR), survival rate (SR) and number of over-size fish (OS) averages. The Egypt female × Netherlands male (EN) crossbreed showed the best performance with cumulative SGR, SR, and OS of 9.69 ± 0.03%, 63.98 ± 6.75% and 0.22 ± 0.04%, respectively. The result also revealed a correlation between the OS and the SR; the higher the OS, the lower the SR. This correlation tended to be weak at the sequential nursing stages. Our study suggested that the EN crossbreed has high potential to improve offspring quality in the near future.
Key words: African catfish / interpopulation crossbreed / growth variation / survival

© EDP Sciences 2016

http://dx.doi.org/10.1051/alr/2016026

#LifeNote: Tentang Duniaku

“Terus aja asyik hidup dengan lele”. Terdengar secara jelas, dengan nada menghina…….. Apakah aku harus marah? Tentu tidak. Bahkan sekedar tersinggungpun tidak. Alih-alih, aku terima karena faktanya, inilah hidupku: bersama ikan.

Dunia yang awalnya tidak aku ketahui, hanya karena ketidak-tahuan yang membuatku tersesat ke dalamnya. Karena terlanjur masuk, akhirnya “Hidup mati aku di perikanan”, seperti kata Prof Enang Haris. Dikerjakan secara serius, dinikmati hingga bisa menjiwai dan belajar untuk ikhlas.
Dunia ini yang memberiku hidup. Membangun mimpi yang optimis, menjalani secara dinamis dan melihat kembali dengan realistis. Dunia ini yang telah mengantarkanku silaturahmi dengan banyak orang di hampir semua propinsi di Indonesia bahkan berkesempatan menikmati sajian khas di beberapa negara lain, merasakan kebahagiaan diterima secara hangat oleh pembudidaya ikan tradisional hingga pejabat di negeri seberang, dan bisa belajar saling mengakui dan menghargai hasil pekerjaan yang telah diraih.

Bekerja dengan mahluk hidup dengan hubungan klasifikasinya yang sangat jauh dan berbeda habitat namun dituntut untuk mengikuti standar keinginan manusia, adalah sebuah seni yang berbasis rasa, selain harus selalu mengikuti fakta berbasis logika. Perlu disiplin, konsistensi dan kontinyuitas.
Dunia untuk aku bisa saling mengelorakan semangat, menantang inovasi, memberi inspirasi, mempertahankan integritas, menerima dengan kesabaran dan berbagi cinta.

Adalah salah besar bila merasa dan meyakini dengan cara nyinyir terhadapku; anda, keluarga dan teman-teman bisa merontokkan aku.

#UjungSelatanNegeri: Early Life

Mungkin tampilan yang ‘wah’ pada masanya: kemeja model safari, celana pendek, plus sepatu boot plastik setengah betis. Kemeja putih senada dengan celana, tambah tutup saku warna coklat, ke bawahnya sepatu warna biru yang cukup ‘nge-jreng’. Duduk mengelilingi kue, ukuran bulat sejengkal orang dewasa, berhias bunga di sekelilingnya, ditambah lilin sebanyak lima buah. Kakak-kakakku tidak nampak di tengah kerumunan itu, mungkin sedang ikut membereskan kue tentengan di belakang atau mungkin berada di sudut lain karena mereka sudah anak SD saat itu.


Ya, ulang tahun ke-lima. Entahlah saat itu memang lagi nge-trend, atau ada maksud lain, ulang tahun dirayakan dengan mengundang tetangga dan teman2 di Taman Kanak-kanak Tunas Harapan Kecamatan Sagaranten. Agak aneh merayakan ulang tahun saat itu, ketika rumah saja masih mengontrak, dan kami bukan tinggal di kota besar, melainkan hanya sebuah kecamatan, 50 km dari pusat kota.

Bu Iis, beliau guru TK kami. Beliau sabar mengajari kami. Kami menempati gedung sekolah samping pasar Sagaranten, pasar yang hanya dipakai setiap hari Sabtu. Karena dekat pasar, sepulang sekolah, kami bisa main ke pasar dan ikut mengerubungi pertunjukkan sulap dari pedagang obat keliling. Beberapa kali, Bu Iis membawa kami ke stasiun radio amatir, yang menempati sebuah bekas bangunan di kampung gudang, agak ke barat terminal. Kami tidak pernah tahu bagaimana respon pendengar radio saat itu, yang jelas, kami bisa menyanyi dengan suara kencang.

Selepas TK, aku sekolah di SD Negeri Sagaranten 2, menyusul kakak-kakakku yang juga di sekolah yang sama. Ada Bu Oon yang dengan sabar mengajari kami menulis dan membaca di kelas 1. Ada Bu Enung Heryati yang penuh kasih sayang. Ada Bu Mimin dan lainnya. Kelas 5 akhir, aku harus berpindah sekolah seiring dengan kepindahan tugas kerja Abah ke Kecamatan Kalibunder. Aku melanjutkan sekolah di SD Negeri Sukasari hingga lulus.

Kepindahan keluarga kami adalah pulang kampung. Saat itu, Sagaranten – Kalibunder berjarak “sangat jauh” karena harus melalui kota Sukabumi. Perlu sehari perjalanan bila menggunakan kendaraan umum. Karena saat kepindahan Abah menyewa truk untuk mengangkut barang-barang, kami bisa sedikit potong kompas melalui Gunung Buleud ke Bojong Lopang. Lain hal dengan uwa, paman atau kerabat lain, mereka berjalan kaki dari Sagaranten ke Kalibunder via kecamatan Pabuaran (saat ini). Menjelang kepindahan, aku sempat menempuh jalan kaki melalui rute ini.

Sekolah berlanjut ke SMP Negeri Kalibunder. Sekolah yang baru dibuka dan dijadikan sekolah negeri setelah sebelumnya SMP PGRI. Kami adalah angkatan ke 5 atau ke 6 di sekolah tersebut, tapi yang pertama menempati gedung sekolah yang baru sejak kelas 1. Kakak angkatan kami masih sempat merasakan menumpang sekolah di gedung SD.